MAKALAH
SUPERVISI PENDIDIKAN
PERKEMBANGAN SUPERVISI PENDIDIKAN
(Supervisi masa awal, ilmiah, manusiawi, masa sekarang dan akan datang)
Oleh : Agus Nasrullah
Mahasiswa STAIL Surabaya
Kata Pengantar
Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah semata, tuhan yang telah
menciptakan langit dan bumi beserta isinya, tuhan yang telah member
begitu banyak nikmat kepada kita sehingga makalah ini bias terselesaikan
dengan semestinya. Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada
junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW. Semoga kita mendapat syafaatnya.
Supervisi merupakan hal yang urgen dalam pendidikan sebab supervise
memiliki peran yang sangat penting demi meningkatkan kualitas sekolah
terkhusus dalam peningkatan kualitas guru yang berefek pada peningkatan
kualitas anak didik.
Supervise memilki perkembangan-perkembangan dari masa kemasa,
sehingga supervise pada masa awal tentu berbeda dengan masa sekarang,
namun diantara supervise-supervisi tersebut memiliki kelemahan sehingga
perlu adanya keterkaitan untuk saling melengkapi satu dengan yang lain.
Oleh karena itu, pada makalah ini akan membahas perkembangan
supervisi yang di mulai dari supervise masa awal atau sejarah supervisi,
supervisi ilmiah, supervisi manusiawi, supervise masa sekarang dan
supervise yang akan dating atau gambaran/ ramalan tentang perkembangan
supervise kedepannya.
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar……………………………………………………………………………….1
Daftar Isi……………………………………………………………………………………..2
Pembahasan ………………………………………………………………………………….3
- Supervisi Pada Masa Awal……………………………………………………………..3
- Supervise Abad ke-18…………………………………………………………..........5
- Supervise Abad ke-19…………………………………………………………...........6
- Supervisi Ilmiah dan Manusiawi………………………………………………………...6
- Supervise Ilmiah……………………………………………………………............…6
- Supervisi Manusiawi………………………………………………………….............10
- Supervisi Masa Sekarang dan yang akan Datang………………………………….....…11
- Supervisi Masa Sekarang……………………………………………………..............11
- Supervisi Masa yang akan Datang………………………………………….............…15
- Kesimpulan dan Penutup……………………………………………………...………..17
- Kesimpulan………………………………………………………………………...…..17
- Penutup…………………………………………………………………………...……17
- Daftar Pustaka……………………………………………………………………...…..18
PEMBAHASAN
- SUPERVISI PADA MASA AWAL
Proses pendidikan di dunia ini sudah lama berlangsung.
Sebenarnya pendidikan itu sudah ada sejak manusia itu ada. Sebab dari
hakekat manusia kita sudah tahu, manusia sudah tidak bisa tumbuh dan
berkembang oleh dirinya dan untuk dirinya sendiri. Sejak bayi anak itu
sudah membutuhkan pertolongan dari orang tua dan sanak familinya agar
dapat berkembang dengan baik. pada masa kanak-kanak mereka juga ditolong
oleh orang lain dalam lingkungannya, Begitu juga menjelang dewasa
mereka tetap mendapat pertolongan dari anggota –anggota masyarakat yang
lebih luas untuk meyempurnakan perkembangannya. Macam- macam
pertolongan itu di sadari atau tidak oleh anak bersangkutan adalah
merupakan pendidikan untuk membantu mengembangkan dirinya.
Pada zaman Yunani kuno sistem pendidikan yang sifatnya sistematis
seperti sekarang belum ada, yang ada ialah pendidikan yang bersifat
individual. Nampaknya inisiatif untuk belajar timbul dari
individu-individu yang ingin mengetahui sesuatu. Satu-satunya materi
yang dibutuhkan untuk di pelajari adalah pelajaran untuk menulis ini
yang terjadi sekitar 500 tahun sebelum masehi. Kemudian pada tahun 400
sampai 350 tahun sebelum Masehi materi pelajaran di tambah dengan
belajar membaca. Jadi yang di pelajari pada waktu itu adalah membaca dan
menulis. yang mengajar bukanlah guru-guru, melaikan tutor, yang
menuntut keterampilan untuk melatih para siswa untuk menulis dan
membaca.
Pendidikan mendapat perhatian yang sangat penting ialah pada zaman
Sparta. Pemerintah pada waktu itu sudah menyadari akan pentingnya
pendidikan bagi kemajuan bangsa dan negara. Pendidikan bertugas
mengembangan, mempertahankan, dan melindungi Negara. Menyadari akan
pentingnya pendidikan timbullah supervisor yang disebut Paidonomous.
Guru dan tutor tidak ada. Yang melatih para siswa ialah para supervisor
itu dengan hak kontrol yang absolut.
[1]
Pada zaman Athena pendidikan lebih maju dan lebih di hargai dari pada
zaman-zaman sebelumnya. Perhatian dicurahkan pada pengembangan profesi
dan spesialis. Terjadilah pertemuan-pertemuan guru dengan siswa untuk
mendiskusikan sesuatu, pemikiran-pemikiran filsafat pun muncul pula.
Ahli-ahli pikir yang terkenal pada zaman itu ialah Socrates, Plato, dan
Aristoteles. Kerajaan Romawi mewarisi kebudayaan Yunani; kesenian,
ilmu, dan pendidikan maju dengan pesat. Sekitar tahun 140 sebelum Masehi
didirika sekolah Grammar yang mempelajari bahasa latin. Grammar
dipandang mampu atau sebagai alat yang ampuh untuk meningkatkan daya
pikir dan logika para siswa. Begitu pula pada zaman ini
perbaikan-perbaikan pengajaran dan kurikulum sudah dimulai.
Pada zaman pertengahan disamping sekolah Grammar dan Sekolah
Catechimus (agama) didirikan pula Sekolah Membaca dan menulis tingkat
dasar. Nampaknya ada usaha dari pemerintah untuk memperluas kesempatan
belajar bagi masyarakat umum. Pada zaman ini supervisi diberikan kepada
sekolah-sekolah sebagai lembaga pendidikan dan guru-guru sebagai
pelaksanaan pendidikan. Ada dua macam supervisi pada zaman pertengahan,
yaitu supervisi dari pihak negara dan supervisi dari pihak agama.
Supervisi dari pihak negara bertujuan membina sekolah beserta
aktivitas-aktivitasnya agar sejalan dengan keinginan dan garis yang di
berikan oleh negara. Sedangkan supervisi dari pihak agama yang bertugas
dari kalangan agama berkewajiban membina atau mengawasi materi
pendidikan agam dan moral. Kedua macam supervise ini tidak banyak
memperhatikan kualitas pengajaran dan kondisi pendidikan.
Supervisi pendidikan pada zaman revolusi kaum protestan sekitar tahun
1600 mempunyai tujuan tersendiri sesuai dengan kondisi pada waktu itu.
Para Supervisor di beri tugas oleh para pengelolah pendidikan untuk
membantu mencetak ahli-ahli yang sanggup mengadakan pertentangan suci
kepada para filosuf dan ahli teologi Katolik.
Sejalan dengan perkembangan supervisi pendidikan di Negara-negara
Eropa, di Amerika Serikat pun mengalami perkembangannya yang lamban.
Pada abad-17 mula-mula banyak pengusaha kota yang menolak kehadiran
supervisor. Rupanya sekolah-sekolah tidak mau dicampuri oleh orang
luar, mereka takut kalau otoritasnya berkurang, tetapi kemudian
kapala-kepala sekolah itu mau menerima mereka dengan catatan nama
supervisor diganti dengan guru super. Dengan nama baru ini mungkin
dimaksudkan agar guru-guru super ini tetap berada di bawah hirarki
kepala sekolah. Perkembangan selanjutnya ialah hanya kepala-kepala
sekolah yang sudah senior/professional saja yang di beri tanggung jawab
untuk melaksanakan supervisi. Tetapi dengan besarnya pendirian
sekolah-sekolah baru pada abad ke-19, para supervisor dan kepalah
sekolah yang senior/professional ini tidak dapat melakukan tugas
terhadap begitu banyak sekolah. Akhirnya supervisi di serahkan kepada
kepala-kepala sekolah namun tugas utam mereka tetap mengurusi
ketatausahaan dan menegakan disiplin, sedangkan supervise adalah sebagai
tugas terakhir.
Berikut supervise abad ke-18 dan abad ke 19
[2]
- Supervisi pada abad ke-18
Supervisi pada abad ke-18 dilakukan oleh panitia kantor
atau panitia sekolah atau anggota-anggota badan pendidikan mereka ini di
angkat karena kemahiran-kemahiranya akan metode-metode mengajar. Pada
waktu-waktu tertentu mereka datang berkunjung ke sekolah untuk melihat
guru-guru mengajar. Mereka melakukan inspeksi ke sekolah-sekolah, karena
itu muncul istilah inspektur bagi mereka. Tugas mereka adalah untuk
megetahui sampai di mana kepandaian guru-guru itu mengajar, bukan
memperbaiki kekeliruan-kekeliruan yang du buat oleh para guru.
Namun para supervisor ini hanya merupakan alat pencatat
saja bag kepentingan atasannya, mereka hanya menulis apakah guru-guru
itu sudah bekerja dengan benar atau masih salah. Hal itu mudah
dikerjakan sebab apa yang patut dilakukan guru sudah ditentukan sejak
awal. Setiap sekolah sudah mempunyai aturan-aturan dan standar yang
harus di lakukan. Tugas supervisor adalah mengontrol sekolah apakah
sekolah ia sudah melaksanakan aturan dan standar itu atau belum. Bila
ternyata guru melakukan kekeliruan, supervisor hanya mengeritik dan
menegur saja, tidak menunjukan bagaimana memperbaiki diri. Nampaknya
kreatif guru juga kurang dihargai.
- Supervisi pada abad ke-19
Abad ke-18, pengetahuan dibidang metodologi penelitian
pengajaran di beri tugas mengawasi sekolah saja, akan tetapi pada abad
ke-19 kedudukannya sudah meningkat. Mereka secara resmi di katakan
supervisor sekolah. Mereka pada umumnya adalah para pegawai kantor
pengawas pendidikan yang di Indonesia dapat di samakan dengan kantor
perwakilan departemen pendidikan dan kebudayaan, baik di tingkat
provinsi, kabupaten maupun kecamatan. Hal ini disebabkan karena mereka
kini sudah berkembang menjadi orang-orang professional. Dengan demikian
supervisi pada abad ke-19 sudah bersifat professional.
- SUPERVISI ILMIAH DAN MANUSIAWI
Revolusi teknologi dan revolusi industri yang terjadi pada abad 18
dan 19 membuat perubahan pada dunia produksi, perdagangan, manajemen,
dan pada juga dunia pendidikan. Pada tahun 1911 Fredrick Tylor yang di
pandang sebagai bapak manajemen ilmiah menerbitkan buku yang berjudul
“Principle Of Scientific Management” (Robins, 1982 hal.36)
prinsip-prinsip manajemen tersebut adalah
[3]
(1) Setiap elemen kerja para petugas harus dilakukan secara ilmiah (2)
Seleksi dan latihan petugas harus dilakukan secara ilmiah, (3) Kerja
sama manajemen dengan pekerja mengikuti metode ilmiah, dan (4) Ada
kesamaan antara manajer dan pekerja. Dari prinsip-prinsip tersebut dapat
di pahami bahwa manajemen ilmiah menghendaki tiap pekerja mengerjakan
sesuatu yag sudah ditentukan dengan jelas dan dan dengan cara yang sudah
di pahami secara jelas pula. Sejalan dengan prinsip manajemen ilmiah
tersebut di atas Max Weber mengembangkan struktur organisasi yang dia
sebut birokrasi dengan cirri-ciri sebagai berikut (hoy, 1987 hal. 52):
(1) Spesialisasi, (2) Orientasi Imperonal, (3) Hirarki Otoritas, (4)
Peraturan-peraturan dan (5) Orientasi prestasi kerja.
Organisasi pendidikan pada waktu itu diwarnai oleh
prinsip-prinsip tersebut. Sekolah-sekolah membuat peraturan-peraturan
yang ketat, tugas-tugas tadi buat secara mendetail dan sejelas mungkin,
komunikasi di atur menurut garis yang sudah di tentukan, kontrol
diadakan terhadap cara bekerja dengan prestasi, kerja menurut kriteria
tertentu dan hubungan atasan dengan bawahan menjadi fomal. Supervisi
sebagai sub system pendidikan sudah tentu mengikuti prinsip-prinsip
tersebut. Dalam hal ini tugas supervisi dikhususkan pada pembinaan
guru-guru. Supervisor berpegang pada tujuan sekolah, koordinasi, metode
belajar, kualifikasi guru dengan segala aktivitasnya yang sudah di
tentukan kualitasnya secara jelas. Sebelum muncul manajemen ilmiah
tidak ada ketentuan yang pasti atau patokan yang bisa di pakai pegangan
oleh para supervisor. Kini mereka mengontrol segalah aktivitas yang di
lakukan ole guru-guru, mencocokan dengan jadwal kerja, metode mengajar,
kepribadian dengan peraturan yang sudah di gariskan. Mencocokan
prestasi kerja atau hasil belajar pra siswa dengan standar prestasi yang
sudah di sediakan. Serta member insentif kepada guru-guru yang
berprestasi.
Supervisor berusaha meningkatkan cara bekerja guru-guru.
Mereka di beri gambaran tentang kuaifikasi guru yang di cita-citakan.
Mereka dimotivasi dan di himbau untuk mengejar cita-cia itu. Suatu
cita-cita tentang perilaku, ketrampilan dan cara kerja yang sudah jelas
wuudnya. Salah satu alat untuk memacu mengejar cita-cita adalah dengan
insentif. Insentif itu dapat berupa materi, promosi dan penghargaan
sosial.
Tugas utama supervisor ilmiah adalah mencari undang-undang
atau peraturan dan melaksanakan peraturan-peraturan tersebut kepada
guru-guru (Lucio, 1979 hal 8-9). Hal ini masuk akal sebab organisasi
sekolah melakukan semua operasinya berupa administrasi sekolah tidak
boleh melakukan administrasi di luar peraturan-peraturan yang sudah
disahkan. Begitu pula mengenai administrasi yang menyangkut aktivitas
guru-guru atau cara-caraguru mengajar siswanya tidak boleh menyimpang
dari undang-undang tentang perilaku guru, hubungan guru dengan siswa dan
cara guru membimbing siswa belajar.
Contoh undang-undang atau pearaturan-peraturan yang dicari antara lain:
1. Berapa jam belajar teori perminggu dan berapa jam praktek.
2. Metode-metode mengajar mana yang cocok dipakai di kelas
siswa yang memiliki kemampuan rendah dan metode yang mana cocok di pakai
untuk kelas yang memiliki kemampuan lebih.
3. Kecocokan metode mengajar dengan bidang studi
4. Bagaimana prosedur belajar dan mengajar yang baik
5. Macam-macam alat evaluasi yang di perlukan dan seterusnya.
Tidak ada hak bagi guru dan supervisor merevisi atau mengingkari
undang-undang, tetapi bukanlah undang-undang itu sendiri menjadi tujuan
utama pendidikan, tujuan utama pendidikan adalah perkembangan peserta
didik itu sendiri.
Supervisi ilmiah mempunyai kaitan dengan supervisi
spesialis. Sebab supervisi ilmiah diilhami oleh revolusi industri yang
sangat memperhatikan pengkhususan-pengkhususan dan diperkuat prinsip
spesialisasi Weber. Jadi supervisi pada waktu itu sudah memandang perlu
ada supervisor- supervisor spesialisasi. Tetapi
spesialisasi-spesialisasi yang diadakan pada waktu itu masih terbatas,
mugkun karena diferensiasi bidang studi belum sebesar sekarang. Yang
disiapkan oleh departemen-departemen supervisi itu ialah (lucio, 1979
hal. 6):
1. Spesialis atau kepala bidang studi bahasa
2. Spesialis atau kepala bidang studi matematika
3. Spesialis atau kepala bidang studi ilmu sosial
4. Spesialis atau kepala bidang studi sains
Dengan adanya supervisor spesialis ini timbullah problem dengan
kepala sekolah dalam menangani bidang studi tertentu di sekolah. Problem
itu berupa kesulitan menentukan otoritas, otoritas, fungsi dan prosedur
kerja. Siapakah diantara keduanya lebih berwewenang menangani guru-guru
apakah prosedur kerja yang ditempuh oleh keduanya sama.
John D. McNeil (1982) , menyatakan bahwa terdapat empat pandangan mengenai supervisi ilmiah sebagai berikut :
[4]
Pertama, supervisi ilmiah dipandang sebagai kegiatan supervisi
yang dipengaruhi oleh berkembangnya manajemen ilmiah dalam dunia
industri. Menurut pandangan ini, kekurang berhasilan guru dalam
mengajar, harus dilihat dari segi kejelasan pengaturan serta pedoman-
pedoman kerja yang disusun untuk guru. Oleh karena itu, melalui
pendekatan ini, kegiatan mengajar harus dilandasi oleh penelitian, agar
dapat dilakukan perbaikan secara tepat.
Kedua, supervisi ilmiah dipandang sebagai penerapan penelitian
ilmiah dan metode pemecahan masalah secara ilmiah bagi penyelesaian
permasalahan yang dihadapi guru di dalam mengajar. Supervisor dan guru
bersama-sama mengadopsi kebiasaan eksperimen dan mencoba berbagai
prosedur baru serta mengamati hasilnya dalam pembelajaran.
Ketiga, supervisi ilmiah dipandang sebagai
democratic ideology. Maksudnya setiap penilaian atau
judgment
terhadap baik buruknya seorang guru dalam mengajar, harus didasarkan
pada penelitian dan analisis statistik yang ditemukan dalam
action research
terhadap problem pembelajaran yang dihadapi oleh guru. Intinya
supervisor dan guru harus mengumpulkan data yang cukup dan menarik
kesimpulan mengenai problem pengajaran yang dihadapi guru atas dasar
data yang dikumpulkan. Hal ini sebagai perwujudan terhadap ideologi
demokrasi, di mana seorang guru sangat dihargai keberadaannya, serta
supervisor menilai tidak atas dasar opini semata.
Keempat, pandangan tersebut tentunya sampai batas tertentu
saat ini masih relevan untuk diterapkan. Pandangan bahwa guru harus
memiliki pedoman yang baku dalam mengajar, perlu juga dipertimbangkan.
Demikian pula pendapat bahwa guru harus dibiasakan melakukan penelitian
untuk memecahkan problem mengajarnya secara ilmiah, dapat pula diadopsi.
Pandangan terakhir tentunya harus menjadi landasan sikap supervisor, di
mana ia harus mengacu pada data yang cukup untuk menilai dan membina
guru.
Pada tahun 1920 banyak protes diajukan terhadap metode dan kurikulum
yang di berikan secara otoriter dari para administrator sekolah. Mereka
tidak setuju kalau semua prinsip pendidikan ditentukan sendiri oleh
pimpinan. Hasil studi Hawthrone (Hoy 1979 hal.9) menunjukan sosial
para pekerja (guru-guru) yang baik akan meningkatakan keakraban kerja.
Kelompok ini akan membentuk struktur sosial yang informal dengan norma,
nilai dan kesensitivannya yang semuanya memberi efek kepada
perfomannya. Para penganut aliran ini tidak setuju memperalat guru
untuk mencapai maksud atasan. Mereka percaya bahwa kepala sekolah,
supervisor dan guru-guru bersama mempunyai kemauan dan bertangfungjawab
terhadap pengembangan pendidikan. Guru-guru perlu dihormat. Dan hubungan
baik secara vertical maupun secara horizontal di sekolah perlu
dikembangkan. Dengan demikian diharapkan guru-guru akan lebih
berprestasi dan akan berdampak positif bagi peserta didik.
Tugas supervisor bukanlah mencari undang-undang atau
peraturan yang akan dilaksanakan di sekolah serta mengontol guru agar
menepati undang-undang itu. Tugas supervisor bukan menginspeksi
guru-guru, melainkan membimbing mereka. Supervisi adalah suatu proses
pengembangan kompetensi guru secara maksimum sesuai dengan tingkat
kemampuannya, sehingga mencapai tingkat efisiensi kerja yang lebih
tinggi. Mereka di dorong untuk berkembang, mereka dimotivasi untuk
berinisitif, mereka diajak berpartisipasi menentukan kebijakan sekolah.
Pandangan, pendapat dan pikiran mereka dimanfaatkan. Dengan demikian
tugas supervisor adalah (1) Menciptakan iklim sekolah yang santai dan
(2) memperluas partisipasidi kalangan personalia sekolah (Lucio 1979
hal.11), disamping tugas memperbaiki staf pengajar. Yang di maksud
dengan iklim sekolah yang santai suatu iklim yang tidak tegang akibat
control yang ketat untuk melaksanakan aturan-aturan sekolah secara
tepat, melainkan suatu bentuk hubungan kerja sama yang fleksibel, dapat
berdisiplin bila suasana membutuhkan dan tidak formal bila dikehendaki.
Model supervisi ini menunjukan adanya kepemimpinan
bersama diantara personalia sekolah dengan cara berpartisipasi bersama
untuk memajukan pengajaran. Hal ini bisa dicapai dengan efektif, bila
ada kemampuan pada masing-masing personalia sekolah untuk menganalis
diri sendiri, Syarat ini sulit dicapai mengingat
keterbatasan-keterbatasan individu, tidak semua individu mempunyai
kemampuan melaksanakan hal itu pada dirinya.
- SUPERVISI MASA SEKARANG DAN AKAN DATANG
- Supervise masa sekarang
Supervisi ini mempunyai cirri-ciri dinamis dan demokratis yang
merefleksikan vitalitas pemahaman kepemimpinan yang berbobot (Neagly,
1980 hal.1). Lebih jauh karakteristik supervisi modern dikatakan sebagai
berikut.
[5]
Pertama, menciptakan dan mempertahankan antar hubungan yang memuaskan
diantara semua anggota staf. Kondisi seperti ini merupakan dasar yang
paling utama dalam melaksanakan supervisi. Sebab supervisi adalah
merupakan suatu proses yang menyangkut aktivitas-aktivas individu
didasari oleh pengenalan dan hubungan yang akrab.
Kedua ialah demokratis, istilah demokratis dikatakan mencerminkan
dinamika, dapat mengerti dan memahami, sensitif, dan memegang peranan
kepemimpinan.
Ketiga adalah komprensif. Suatu yang supervisi berlangsung dari
taman kanak-kanak sampai dengan sekolah menengah tingkat atas yang
mencangkup beberapa sekolah untuk beberapa sekolah untuk wilayah
tertentu. Bentuk dan isi supervisi untuk tingkat-tingkat sekolah itu
tidak boleh berbeda-beda. Kesamaan ini dimaksudkan untuk menj`min
kontinuitas kurikulum sekolah dari taman kanak-kanak sampai dengan
sekolah menengah tingkat atas. Hal ini akan memudahkan para siswa
mengembangkan diri melalui kurikulum tersebut. Cukup sulit bagi siswa
kalau ia sudah biasa belajar dengan cara bervariasi beralih ke cara
yang monoton misalnya. Itulah sebabnya perlu diusahakan kesamaan metode
belajar mengajar dari tingkat sekolah yang paling rendah sampai
ketingkat yang paling tinggi.
Supervisi yang dinamis ialah supervis yang aktif, kreatif, dan banyak
inisiatif dalam melaksanakan fungsinya. Suatu supervisi yang tidak
hanya mengamati, mengontrol, mengeritik dan menilai saja tetapi jauh
lebih luas dari pada itu. Supervisi seperti ini ikut merencanakan agar
proses belajar memberi hasil yang baik, membantu menciptakan kondisi
belajar yang baik, memonitori guru-guru agar tidak sampai terlanjur jauh
berbuat salah, mencari sebab sebuah kesalahan, memberi saran dan
membimbing. Supervisor tidak hanya mencari kesalahan guru, tidak pula
hanya memperbaiki kesalahan guru, tetapi juga berusaha mengadakan
preventif agar guru-guru sedikit mungkin berbuat salah. Hal ini
dilakukan dengan bermacam-macam cara sesuai problem yang dihadapi itulah
sebabnya mengapa supervisor itu perlu aktif, kreatif dan berinisiatif.
[6]
Secara historis mula-mula diterapkan konsep supervisi yang
tradisional, yaitu pekerjaan inspeksi, mengawasi dalam pengertian
mencari kesalahan dan menemukan kesalahan dengan tujuan untuk
diperbaiki. Perilaku supervisi yang tradisional ini disebut
snooper vision,
yaitu tugas yang memata-matai untuk menemukan kesalahan. Konsep seperti
ini menyebabkan guru-guru menjadi takut dan mereka bekerja dengan tidak
baik karena takut dipersalahkan.
[7]
Mark membuat perbandingan supervisi tradisional dengan supervisi modern yang ia kutip dari Burton dan Brueckner (1978 hal. 12)
supervisi tradisional adalah (1) meginspeksi, (2) terpusat pada guru
, (3) berkunjung dan berdiskusi, (4) perencanaan yang sederhana, (5)
memergoki dan otoriter dan (6) biasanya satu orang. Sedangkan supervise
modern ialah (1) pragamatis dan menganalisis, (2) terpusat pada tujuan,
materi, teknik, guru, siswa, dan lingkungan, (3) melaksanakan beraneka
ragam fungsi, (4) Perencanaan dan organisasi yang jelas dengan tujuan
yang khas, (5)memotivasi dan bekerja sama, dan oleh orang banyak.
Perbandingan ini memperjelas apa yang dimaksud dengan supervise yang
bersifat komprehensif. Ini merupakan karakteristik terakhir dari
supervise modern menurut pandangan Neagley.
Sergiovani membedakan supervise tradisional dengn supervise
tradisonal dengan supervisi modern dari segi perlakuan terhadap
personalia sekolah yang dia sebut sebagai variable perantara (mediating
variables). Supervisi tradisional tidak memakai variable ini sealiknya
supervise modern menggunakannya dan lebih berhasil.
Ada tiga variable dalam hubungan dengan supervisi pendidikan.
Variabel-variabel tersebut ialah variable awal (initiating variables)
yang mencangkup:
1. Supervisor yang memegang referensi untuk teman-temannya, para bawahan dan dirinya sendiri
2. Pola-pola perilaku administrasi dan supervisi
3. Elemen-elemen struktur organisasi
4. Sistem otoritas
5. Tujuan sekolah dengan pola untuk mencapainya
Variabel kedua ialah variable perantara yang mencangkup:
1. Sikap guru dan personalia sekolah lainnya terhadap jabatan dan antar hubungan mereka
2. Tingkat kepuasan bekerja
3. Komitmen staf terhadap tujuan sekolah
4. Gambaran tujuan sekolah yang dimiliki oleh guru-guru
5. Tingkat kesetian guru-guru
6. Kepercayaan dan keakraban antar personalia sekolah
7. Kemauan untuk mengontrol kepercayaan trsendiri
8. Fasilitas untuk berkomunikasi
Variabel yang ketiga ialah variable kesuksesan sekolah yang mencagkup:
1. Tingkat performan guru-guru dan personalia sekolah lainnya
2. Tingkat performan para siswa
3. Tingkat perkembangan dan pertunbuhan para siswa
4. Peningkatan organisasi personali sekolah
5. Laju presensi dan absensi staf
6. Laju absensi dan drop out para siswa
7. Kualitas hubungan sekolah dengan masyarakat
8. Kualitas hubungan personalia sekolah
Dikatakan lebih lanjut bahwa supervise trdisional hanya mengejar
kesuksesan jangka pendek saja, dengan bertitik tolak pada variable awal
tanpa mengihiraukan variable perantara. Itulah sebabnya kesuksesan mudah
lenyap sebab semangat pelaksana-pelaksananya mudah memudah.
[8]
Menyadari kelemahan supervisi tradisional tersebut, maka supervise
modern meletakan kunci pengeerakanya pada organisasi personaliannya
yaitu para pelaksana yang dikatakan sebagai variable perantara, walaupun
diakui bahwa variable ini juga di pengaruhi dan ditentukan oleh
variable awal. Variable yang terdiri dari sikap, kepuasan bekerja,
komitmen, kesetiaan dan sebagainya merupakan dasar dedikasi seorang guru
dalam melaksanakan tugasnya di sekolah.
Dari uraian dapat disimpulkan bahwa supervise modern adalah supervise
yang memperhatikan antara hunbungan personalia sekolah, menghargai dan
menghayati kepribadian, bakat dan kemampuan mereka masing-masing.
Penghargaan dan pengetahuan ini merupakan suatu strategi dalam membina
profesi mereka sebagai pendidik, yang dilakukan dengan metode
intelegensi praktis yang bersifat demokratis. Supervisi dilakukan
dengan cara komprehensif, yaitu dengan cara menyamakan prinsip-prinsip
yang di pakai dalam proses belajar mengajar dan prinsip-prinsip materi
dengan baik secara vertical maupun secara horizontal.
- Supervise masa akan datang
Ada beberapa ramalan tentang bagaimana kemungkinan supervisi pada
masa yang akan datang. Yang bisa di kemukakan dua macam yang satu
meninjau supervisi dari sudut professional guru, sedang lain meninjau
dari sudut politik negara. Atau yang satu melihat kecenderungan
supervisi terpusat pada pengembangan profesi pendidik, yang lain melihat
kecenderungan itu bertitik pusat pada politik negara.
Kecenderungan-kecenderungan supervisi yang baru dan mungkin yang
terus berkembang pada masa akan datang dalam membina para guru
disebabkan oleh perkembangan oleh perkembangan ilmu dan teknologi yang
begitu pesat. Perkembangan seperti ini akan membuat dunia beserta
masyarakatnya akan berubah dengan cepat pula.
Untuk mencapai maksud di atas membutuhkan tipe supervisi yang baru
(Marks, 1978, h. 94). Supervisi tersebut lebih mememusatkan dari pada
pengembangan profesi dan bakat guru serta memanfaatkannya untuk
kepentingan kemajuan pendidikan daripada memberi konsultasi langsung
kepada guru-guru, membina agar mereka bisa memimpin diri sendiri, tidak
bergantung kepada pengarahan dari luar, dan percaya kepada sumber-sumber
pendidikan yang diperoleh sendiri. Supervisor juga menanamkan
pengertian program sekolah yang baru kepada guru-guru dalam usaha
menyiapkan para siswa menghadapi kehidupan yang semakin keras.
Sementara Marks nampak membatasi diri pada dunia pendidikan (1979,
h.18) rupanya menghubungkan pendidikan dengan situasi dunia sekarang,
khususnya dalam bidang politik, Lucia melihat
kecenderungan-kecenderungan sekolah pada masa yang akan datang lebih
banyak dikontrol oleh negara. Negara memandang pendidikan merupakan
suatu alat yang vital untuk menegakkan serta memajukan nusa dan bangsa.
Hal ini memang penting bila dihubungkan dengan situasi dunia yang penuh
dengan usaha merebut pengaruh dan persaingan kekuatan di antara dua
negara raksasa. Pemerintah memandang perlu untuk mengawasi usaha-usaha
sekolah agar anggota masyarakat yang diproduksi mampu mempertahankan
kedaulatan negara, berdiri sendiri, dan tidak hanyut oleh pengaruh
negara lain.
Bila demikian halnya, maka supervisor akan berada diantara sebagian
alat Negara dan dan sebagai professional. Karena itu disarankan peranan
supervisor sebagai berikut:
1. Sebagai perantara dalam menyampaikan minat para siswa, orag
tua dan program sekolah kepada pemerintah dn badan-badan lain
2. Memonitor penggunaan dan hasil-hasil sumber belajar.
3. Merencanakan program untuk populasi pendidikan yang baru.
4. Mengembagkan program yang baru untuk jabatan baru yang mungkin muncul
5. mengkombinasikan program yang di ajukan pemerintah, perdagangan dan industry
6. menilai dan meningkatkan pengertian gaya kehidupan
7. Memilih inovasi yang konsisten dengan masa yang akan datang.
Ramalan yang sifatnya menjangkau terlalu jauh kepada masa yang akan
datang seringkali tidak tepat. Pengajaran dengan mesin yang diramalkan
pada tahun 1960-an akan menguasai dunia pendidikan, ternyata hal itu
tidak terjadi sampai sekarang (Robbins, 1982 hal.152). Oleh sebab itu
membuat ramalan dalam bidang supervisi pendidikan, khususnya di
Indonesia, tidak perlu menjangkau terlalu kedepan. Cukup setiap awal
pelita (pembangunan lima tahun) merumuskan model supervisi yang baru
atau diperbaharui berdasarkan pengalaman-pengalaman yang lampau dan
antisipasi satu pelita. Model ini pula dapat di revisi.
- KESIMPULAN DAN PENUTUP
Kesimpulan
Pada abad ke-18 tugas supervisor hanya sebatas mengontrol sekolah
apakah sekolah ia sudah melaksanakan aturan dan standar itu atau
belum. Bila ternyata guru melakukan kekeliruan, supervisor hanya
mengeritik dan menegur saja, tidak menunjukan bagaimana memperbaiki diri
dan kreatif guru juga kurang dihargai.
Pada abad ke-19 tugas para supervisor tidak lagi hanya mengontrol dan
mencatat kesalahan guru, dan tidak lagi bersifat otokrasi, melainkan
berangsur-angsur memperhatikan individualitas guru.
Pada masa sekarang supervisi lebih berkonsentrasi untuk menciptakan
dan mempertahankan antar hubungan yang memuaskan diantara semua anggota
staf. Kondisi seperti ini merupakan dasar yang paling utama dalam
melaksanakan supervisi. Sebab supervisi merupakan suatu proses yang
menyangkut aktivitas-aktivas individu didasari oleh pengenalan dan
hubungan yang akrab.
Kecenderungan supervisi pada masa yang akan datang dan mungkin yang
terus berkembang dalam membina para guru disebabkan oleh perkembangan
ilmu dan teknologi yang begitu pesat. Perkembangan seperti ini akan
membuat dunia beserta masyarakatnya akan berubah dengan cepat pula.
Penutup
Demikian makalah ini kami buat, semoga dapat di jadikan sebagai baha
refrensi guna menambah wawasan terkait pendidikan. Semoga bermanfaat.
- DAFTAR PUSTAKA
http://makalah-listanti.blogspot.com/2012/05/supervisi-pendidikan,dari-masa-ke-masa.html
Chenlystil.blogspot.com.2011/04/Sejarah perkembangan supervisi pendidikan.
www.wikipedia.co.id
Arikunto, Prof. Dr. Suharsimi.2004.
Dasar-Dasar Supervisi. Jakarta : Rineka Cipta.
Sahartian, Prof. Drs. Piet A.2008.
Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.
[3]Fredrick Tylor “Principle Of Scientific Management” (Robins, 1982 hal.36)
[7] Prof. Drs. Piet A Sahartian.
Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan. 2008.Jakarta : Rineka Cipta. Hal 16
[8] Opcit. Prof. Drs. Piet A Sahartian. Hal 35