Selasa, 07 Februari 2012

asas-asas pengembangan kurikulum

ASAS-ASAS PENGEMBANGAN KURIKULUM
Makalah
PENGEMBANGAN KURIKULUM
Memahami dan menjelaskan landasan-landasan pengembangan kurikulum 
(Agama, Filosofis dan Psikologis)


                                                   Oleh : Agus Nasrullah
Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim
Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya



















Kata Pengantar

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa memberikan Berbagai nikmat-Nya kepada kita, Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, nabi akhir zaman yang telah membawa kita kepada jalan yang di ridhoi-Nya.
Pada makalah ini pemateri akan mencoba untuk membahas atau mengupas hal-hal terkait pembelajaran  pengembangan kurikulum terkhusus tentang landasan-landasan kurikulum berdasarkan agama, filosofis dan psikologis yang mana merupakan salah satu aspek penting dalam pembahasan makalah ini.
Sengaja makalah ini di buat dengan tujuan memudahkan mahasiswa dalam memahami sebuah kurikulum, serta memudahkan dalam mengimplementasikan ilmu tersebut dalam sebuah kehidupan, baik dalam sebuah lembaga sekolah dan lain sebagainya.
Penulis

agus nasrullah







Daftar Isi
  1. Kata Pengantar
  2. Daftar Isi
  3. Pembahasan
A.     Pengertian Kurikulum Berdasarkan Filosofis
B.      Pengertian Kurikulum Berdasarkan Psikologis
C.      Pengertian Kurikulum Berdasarkan Agama
  1. Kesimpulan
  2. Penutup
  3. Daftar Pustaka








Pembahasan

Perkataan “kurikulum” mulai dikenal sebagai suatu istilah dalam dunia pendidikan sejak kurang lebih satu abad yang lalu, dimana istilah “kurikulum” itu untuk pertama kalinya digunakan dalam bidang olah raga, yaitu suatu alat yang membawa orang dari start sampai ke finish. Baru pada tahun 1955 istilah “kurikulum” digunakan dalam bidang pendidikan, dengan arti sejumlah materi pelajaran dari suatu perguruan.
Menurut Hilda Taba dalam bukunya “Curriculum Development; Theory and Practice”, sebagaimana dikutip oleh Khoiron Rosyadi, kurikulum diartikan sebagai sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh anak didik. Dalam pengertian yang lain, kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di sekolah.

Asas atau landasan pengembangan kurikulum dapat di ibaratkan seperti pondasi sebuah bangunan yang mana pondasi tersebut sangat menentukan terhadap kekuatan bangunan itu sendiri, oleh sebab itu sebeblum sebuah gedung di bangun maka yang pertama kali harus dilakukan adalah membangun sebuah pondasi yang kokoh sebab semakin kuat pondasi sebuah gedung maka gedung tersebut akan semakin kokoh juga. Demikian juga dalam hal pengembangan kurikulum, sebab kesalahan dalam menentukan dan menyusun pondasi kurikulum berarti kesalahan dalam menentukan kebijakan dan implementasi pendidikan.

Tiga landasan pengembangan kurikulum:


A.     Pengertian Kurikulum Berdasarkan Filosofis
Filsafat berasal dari kata Yunani kuno, yaitu dari kata “philos” dan “Sophia”. Philos, artinya cinta yang mendalam¸dan Sophia adalah kearifan atau kebijaksanaan.[1]Secara harfiah filosofis (filsagat) berarti “cinta akan kebijaksanaan”[2]. Asas filosofis dalam penyusuna kurikulum berarti bahwa penyusunan kurikulum hendaknya berdasar dan terarah pada falsafat bangsa yang di anut. Filsafat berasal dari bahasa yunani Philoshopis, philo, philos, pholein yang berarti cinta, pecinta, mencintai, sedang shopia berarti kebijaksanaan, wisdom, kearifan, hikmat, hakikat kebenaran[3].Filsafat dapat diartikan sebagai pegangan atau pandangan hidup. Filsafat juga berarti sekumpulan sikap  dan kepercayaan terhadap kehidupan alam yang biasa diterima secara kritis. Atau suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang kita junjung tinggi, usaha untuk mendapatkan gambaran secara keseluruhan, analisa logis dari bahasan, serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. Ada pula yang berpendapat bahwa filsafat merupakan sekumpulan problema yang langsung mendapat perhatian dari manusia, dan dicari jawabannya, suatu cara hidup yang konkret, suatu pandangan hidup yang total tentang manusia dan alam, atau merupakan perenungan terhadap hakikat sesuatu secara universal, radikal, dan spekulatif dengan menggunakan kemampuan optimal akal manusia.

Dapat disimpulkan bahwa landasan filsafat merupakan dasar atau pijakan dalam  melihat segala sesuatu dari  sudut bagaimana seharusnya dengan fakta sebagaimana adanya sehingga bisa menjadi bahan masukan bagi manusia untuk membantu memecahkan berbagai masalah dalam kehidupan.
Sebagai suatu landasan fundamental, filsafat memegang peran penting dalam proses pengembangan kurikulum.

Ada empat fungsi filsafat dalam pengembangan kurikulum, yaitu:
1.      filsafat dapat menentikan arah dan tujuan pendidikan, dengan filsafat sebagai pandangan hidup maka dapat di tentukan mau di bawa kemana siswa yang kita didik tersebut.
2.      filsafat dapat menentukan isi atau materi pelajajaran yang harus diberikan sesuai dengan tujuan yang ingin di capai.
3.      filsafat dapat dapat menentukan strategi atau cara pencapaian tujuan. Filsafat sebagai system nilai dapat di jadikan pedoman dalam merancang kegiatan pembelajaran.
4.      melalui filsafat dapat di tentukan bagaimana menentukan tolak ukur keberhasilan proses pendidikan.
Aliran filsafat yang mendasari pengembangan kurikulum , yaitu :
  1. Aliran Perennialisme yang bertujuan mengembangkan kemampuan intelektual anak melalui pengetahuan yang abadi, universal, dan absolut. Kurikulum dalam pandangan aliran filsafat ini memberi persiapan yang sangat matang bagi kelanjutan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
  2. Aliran Idealisme, yang berpendapat bahwa kebenaran itu berasal dari Tuhan yang diterima melalui wahyu. Filsafat ini biasanya diterapkan pada sekolah-sekolah yang berorientasi religius tapi pendidikan intelektual juga diutamakan dengan menganut standar mutu yang tinggi.
  3. Aliran Realisme mengutamakan pengetahuan esensial, mencari kebenaran di dunia melalui pengamatan dan penelitian ilmiah yang ditemukan melalui hukum-hukum alam. Sekolah yang menganut aliran ini akan mengutamakan pengetahuan yang sudah matang sebagai hasil penelitian ilmiah yang dituangkan secara sistematis dalam berbagai disiplin ilmu/mata pelajaran.
  4. Aliran Pragmatisme, yang berpendapat bahwa kebenaran merupakan buatan manusia berdasarkan pengalamannya. Tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak karena kebenaran bersifat tentative dan dapat berubah. Pengetahuan hanya bisa diperoleh bukan dari mempelajari mata pelajaran namun karena digunakan secara fungsional dalam memecahkan masalah. Sekolah berada pada garis depan pembangunan dan perubahan masyarakat sehingga perencanaan kurikulum juga melibatkan peran orangtua dan masyarakat untuk memadukan sumber-sumber pendidikan.
  5. Aliran Eksistensialisme, mengutamakan individu sebagai faktor dalam menentukan hal terbaik dan dianggap benar, tujuan hidup adalah untuk menyempurnakan diri dan merealisasikan diri.
B.     Pengertian Kurikulum Berdasarkan Psikologi
Psikologi berasal dari bahasa Inggris, yaitu dari kata  psychology yang berakar dari dua kata dari bahasa Yunani: psyche (jiwa) dan logos (ilmu). Psychology berarti ilmu yang yang mempelajari tentang kejiwaan dan tingkah laku manusia.
Psikologi merupakan suatu ilmu yang berkaitan dengan proses mental, baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pada perilaku, ilmu pengetahuan tentang gejala dan kegiatan jiwa. Dengan menerapkan landasan psikologi dalam proses pengembangan kurikulum diharapkan dapat diupayakan pendidikan yang dilaksanakan relevan dengan hakikat peserta didik, baik penyesuaian dari segi materi/bahan yang harus diberikan/dipelajari peserta didik, maupun dari segi penyampaian dan proses belajar serta penyesuaian dari unsur–unsur upaya pendidikan lainnya.

Secara psikologis, anak didik memilik keunikan dan perbedaan-perbedaan beik perbedaan minat, bakat maupun potensi yang dimilikinya sesuai dengan tahapan perkembangannya, dengan alas an itulah maka kurikulum harus memerhatikan kondisi psikologi perkembangan dan psikologi belajar anak.
Menurut  Sukmadinata (2006: 50)  ”kondisi psikologis adalah kondisi karakteristik psikofisik manusia sebagai individu, yang dinyatakan dalam berbagai bentuk perilaku dalam interaksinya dengan lingkungan”. Perilaku-perilaku tersebut merupakan manifestasi dari ciri-ciri kehidupannya, baik yang nampak maupun yang tidak nampak; baik perilaku kognitif, afektif maupun psikomotor. Interaksi yang tercipta didalam situasi pendidikan harus sesuai dengan kondisi psikologis dari anak didik dan pendidik. Interaksi pendidikan di rumah berbeda dengan di sekolah. Interaksi antara anak dengan guru pada tingkat sekolah dasar berbeda dengan pada tingkat sekolah menengah pertama dan atas.

1.      Psikologi perkembangan anak
Pentingnya pemahaman tentang masa perkembangan anak karena beberapa alas an :
Pertama setiap anak didik memiliki tahapan atau masa perkembangan tertentu, pada setiap tahapan itu anak memiliki karakteristik dan tugas-tugas perkembangan tertentu, jika tugas perkembangan tersebut tidak terpenuhi maka ia akan mengalami hambatan pada tahap berikutnya.
Kedua anak didik yang sedang pada masa perkembangan merupakan periode yang sangat menentukan untuk keberhasilan dan kesuksesan mereka. Pada masa itu anak berada pada masa periode perkembangan yang sangat cepat dalam berbagai aspek perkembangan.
Ketiga pemahaman akan perkembangan anak akan memudahkan dalam melaksanakan tugas-tugas pendidikan baik yang menyangkut proses pemberian bantuan memecahkan berbagai masalah yang dihadapi maupundalammengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak diharapkan.
Implikasi dari perkembangan peserta didik terhadap pengembangan kurikulum yaitu:
Setiap anak diberi kesempatan untuk berkembang sesuai dengan bakat, minat dan kebutuhannya. Disamping disediakan pelajaran yang sifatnya umum (Program inti) yang wajib dipelajari setiap anak di sekolah, disediakan pula pelajaran pilihan yang sesuai dengan minat anak. Kurikulum disamping menyediakan bahan ajar yang bersifat kejuruan juga menyediakan bahan ajar yang bersifat akademik. Bagi anak yang berbakat dibidang akademik diberi kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan selanjutnya. Kurikulum memuat tujuan–tujuan yang mengandung pengetahuan, nilai atau sikap, dan keterampilan yang menggambarkan keseluruhan pribadi yang utuh lahir dan batin.

2.      Psikologi belajar
Psikologi atau teori belajar yang berkembang pada dasarnya dapat dikelompokkan kedalam tiga rumpun yaitu:
1) Teori Daya (Disiplin Mental).
Menurut teori ini sejak kelahirannya (heredities)anak telah memiliki potensi-potensi atau daya-daya tertentu (Faculties) yang masing-masing memiliki fungsi tertentu, seperti potensi/daya mengingat, daya berpikir daya mencurahkan pendapat daya mengamati, daya memecahkan masalah, dan daya-daya lainnya. [4]
2) Teori Behavorisme
Rumpun teori ini mencakup tiga teori, yaitu teori Koneksionisme atau teori Asosiasi, teori Kondisioning, dan teori Reinforcement (Operent Conditioning), Rumpun teori Behaviorisme berangkat dari asumsi bahwa individu tidak membawa potensi sejak lahir. Perkembangan individu ditentukan oleh lingkungan (keluarga, sekolah, masyarakat) Teori Koneksionisme atau teori Asosiasi adalah kehidupan tunduk kepada hukum stimulus-respon atau aksi-reaksi. Belajar pada dasarnya merupakan hubungan antara stimulus-respon. Belajar merupakan upaya untuk membentuk hubungan stimulus-respon. Belajar merupakan upaya untuk membentuk hubungan stimulus-respon sebanyak-banyaknya. Manusia itu merupakan organisme yang pasif. Ia di ibaratkan sebuah kertas putih,  mau di tulis apa di atas kertas tersebut tergantung orang yang menulisnya.[5]

3) Teori Organismik atau Gestalt
Teori ini mengacu kepada pengertian bahwa keseluruhan lebih bermakna dari pada bagian-bagian, keseluruhan bukan kumpulan dari bagian-bagian. Manusia dianggap sebagai mahluk organisme yang melakukan hubungan timbal balik dengan lingkungan secara keseluruhan, hubungan ini dijalin oleh stimulus dan respon.

C.     Pengertian Kurikulum Berdasarkan Agama
agama sangat penting di berbagai lembaga pendidikan, hal tersebut dapat di lihat Kurikulum dari banyaknya madrasah-madrasah mulai dari tingkat paling rendah sampai ke tingkat perguruan tinggi, dan sebagaimana yang kita ketahui bahwa di setiap lembaga pendidikan sudah tentu ada kurikulum berdasarkan agama baik agama islam maupun agama yang lainnya tergantung kebijakan dari pihak pengelola pendidikan dan lembaga pendidikan itu sendiri. Seperti di pondok pesantren,madrasah atau sekolah-sekolah islam lainnya sudah tentu kurikulum yang di pakai adalah kurikulum islam, jika sekolah itu milik orang Kristen maka kurikulum yang ia gunakan juga ada yang berlandaskan agama Kristen, begitu juga di sekolah-sekolah umun.

Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam
Pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam dapat diartikan sebgai :
1. Kegiatan menghasilkan kurikulum Pendidikan Agama Islam.
2. Proses yang mengkaitkan satu komponen dengan yang lainnya untuk menghasilkan kurikulum Pendidikan Agama Islam yang lebih baik.
3. Kegiatan penyusunan (desain), pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan kurikulum Pendidikan Agama Islam.
Dalam realitas sejarahnya, pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam tersebut ternyata mengalami perubahan-perubahan paradigma, walaupun dalam beberapa hal-hal tersebut masih tetap dipertahankan hingga sekarang. Hal ini dapat dicermati dari fenomena berikut :
1. Perubahan dari tekanan pada hafalan dan daya ingatan tentang teks-teks dari ajaran–ajaran agama islam, serta disiplin mental spiritual sebagaimana pengaruh dari timur tengah, kepada pemahaman tujuan, makna dan motivasi beragama islam untuk mencapai tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
2. Perubahan dari cara berpikir tekstual, normative, dan absolutis kepada cara berpikir historis, empiris dan kontekstual dalam memahami dan menjelaskan ajaran-ajaran dan nilai-nilai agama islam.
3. Perubahan dari tekanan pada produk atau hasil pemikiran agama islam daripada pendahulunya kepada proses atau metodologinya sehingga menghasilkan produk tersebut.
4. Perubahan dari pola pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam yang hanya mengandalkan pada para pakar dalam memilih dan menyusun isi kurikulum Pendidikan Agama Islam kearah keterlibatan yang luas dari para pakar, guru, tujuan pendidikan agama islam dan cara-cara mencapainya.

Fungsi Kurikulum Pendidikan Agama Islam
1. Bagi sekolah / madrasah yang bersangkutan
a. Sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan agama islam yang diinginkan atau dalam istilah KBK disebut standart kompetensi Pendidikan Agama Islam, meliputi fungsi dan tujuan pendidikan nasional, kompetensi lintas kurikulum, kompetensi tamatan / lulusan, kompetensi bahan kajian Pendidikan Agama Islam, kompetensi mata pelajaran PAI
b. Pedoman untuk mengatur kegiatan-kegiatan pendidikan agama islam di sekolah / madrasah.
2. Bagi sekolah / madrasah atau diatasnya :
Melakukan penyesuaian, menghindari keterulangan sehingga boros waktu, menjaga kesinambungan.
3. Bagi masyarakat
Masyarakat sebagai pengguna lulusan sehingga sekolah / madrasah harus mengetahui hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat dalam konteks pengembangan Pendidikan Agama Islam, adanya kerjasama yang harmonis dalam hal pembenahan dan pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam.

Tujuan kurikulum berdasarkan agama                            
Pada hakikatnya yang menjadi tujuan pengembangan kurikulum berdasarkan agama adalah  untuk menginternalisasikan nilai-nilai agama sebagai titik sentral tujuan dari proses pembelajaran agama itu sendiri, suatu contoh agama islam, maka  setiap lembaga pendidikan yang belandaskan islam maka nilai-nilai ajaran islam adalah yang menjadi suatu tujuan dalam proses pendidikan.
Kendala pendidikan agama
Adapu yang menjadi kendala dalam pendidikan adalah kurangnya waktu yang di berikan, kurangnya motivasi, minimnya sarana, lemahnya sumber daya guru dalam pengembangan pendekatan dan metode yg lebih variatif serta minimnya peran serta orang tua.

KESIMPULAN
Dari semua pembahasan yang telah di sampaikan, terkait landasan-landasan dalam kurikulum berupa agama, filosofis dan psikologis fungsi dan lain-lainya maka dapat di ambil suatu kesimpulan bahwa dalam suatu lembaga sangat di perlukan tiga komponen landasan tesebut karena dalam sebuah pendidikan harus mengetahui untuk apa pendidikan tersebut, mau di bawa kemana arah pendidikan tersebut, kemudian terkait karakteristik dari setiap individiu, bakat dan minat serta nilai-nilai yang akan di tanamkan kepada peserta didik


PENUTUP
Demikian makalh ini di buat semoga bermanfaat serta dapat di jadikan sebagai bahan acuan atau refrensi dalam seutu  bidang pendidikan terkhusus pada bidang pengembangan kurikulum.



DAFTAR PUSTAKA
ü  Sanjaya, Wina. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana
ü  Sukmadinata, Prof.DR.Nana Syaodih “pengembangan kurikulum” teori dan praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Hal.39
ü  Dakir, Prof.Drs.H.2004. Perencanaan Dan Pengembangan Kurikulum.Jakarta: PT.RINEKA CIPTA. Hal.72
ü  Sanjaya, M.Pd,Prof. Dr. H. Wina,kurikulum dan pembelajaran, Jakarta:Kencana prenada media group

[1] Sanjaya, Wina. 2009. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana
[2] Sukmadinata, Prof.DR.Nana Syaodih “pengembangan kurikulum” teori dan praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Hal.39
[3] Dakir, Prof.Drs.H.2004. Perencanaan Dan Pengembangan Kurikulum.Jakarta: PT.RINEKA CIPTA. Hal.72
[4] : nurbaitiekasari, Pengembangan Kurikulum, pada Minggu, 29 Mei 2011
[5] Jhon Locke dalam teorinya “tabularasa”  (Sanjaya, M.Pd,Prof. Dr. H. Wina,kurikulum danpembelajaran, Jakarta:Kencana prenada media group)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar